PERAN SOSIAL, STATUS SOSIAL, dan SOSIALISASI


Di era tahun 90an ada sebuah lagu yang cukup hits dan digemari oleh banyak anak muda kala itu, judulnya “Panggung Sandiwara.” Yang menarik, Sepotong lirik dari lagu itu berbunyi, “Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.” Ya, dunia panggung drama atau sandiwara adalah dunia multiperan. Disebut dunia multiperan karena tiap aktor bisa memainkan lebih dari satu peran atau lakon dalam setiap pertunjukannya.

Nah, situasi yang serupa pun terjadi di dalam “panggung masyarakat.” Tiap orang yang hidup di dalam masyarakat, mau tidak mau, memiliki peran atau lakonnya sendiri-sendiri, sesuai dengan fungsi dan kedudukannya di dalam masyarakat. Bahkan, sama seperti dunia panggung drama, tiap orang dalam masyarakat dimungkinkan untuk memegang peran ganda atau multiperan. Misalnya saja, peran yang dimainkan oleh si A. Ditengah-tengah keluarganya, si A tersebut berperan sebagai seorang anak. Di sekolah, ia berperan sebagai seorang murid. Sedangkan, di kampungnya, ia berperan sebagai ketua karang taruna. Peranan sosial yang dimiliki dan dijalankan oleh si A itulah yang menunjukkan posisi atau fungsi dan kedudukannya di dalam masyarakat. Sehingga, di dalam interaksinya dengan masyarakat, si A diharapkan untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan peran-peran yang ia jalankan.

Meski demikian, adakalanya multiperan yang dijalankan oleh tiap individu malah menimbulkan bentrokan peranan. Misalnya, peran yang dijalankan oleh si B adalah sebagai seorang polisi dan ayah. Bentrokan peranan mulai muncul ketika si B tadi mendapati kenyataan bahwa anaknya kedapatan memakai obat-obatan terlarang. Sebagai ayah, tentunya ia berusaha sedapat mungkin untuk melindungi anaknya. Tetapi, di sisi lain, ia tidak bisa mengelakkan tanggung jawabnya sebagai seorang penegak hukum untuk memproses dan menghukum tindak pidana anaknya tersebut sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Lantas, bagaimana solusinya? Solusi yang paling tepat untuk mengatasi bentrokan sosial tersebut adalah bekerja sesuai dengan peran yang sedang dilaksanakan. Artinya, ketika si B tadi menjalankan perannya sebagai seorang penegak hukum, maka si B tadi harus memiliki distingsi yang jelas, tidak mencampuradukkan antara perasaan sebagai orang tua dengan pekerjaan profesionalnya.

Sementara itu, masyarakat memegang andil yang cukup besar untuk menilai berfungsi tidaknya atau berhasil tidaknya peran-peran yang dimainkan oleh tiap individu di dalam masyarakat. Lantas, bagaimana ukuran penilaiannya? Ukuran penilaiannya adalah prestasi dan/atau jasa-jasa yang ditunjukkan oleh tiap individu sesuai dengan peranannya di dalam masyarakat. Lewat prestasi dan jasa-jasa tersebut, secara tidak sadar, tiap individu telah membentuk opini masyarakat tentang dirinya, tentang pribadinya.

Selain itu, peranan sosial yang dijalankan dengan baik akan menempatkan individu pada suatu kedudukan atau status sosial yang lebih terhormat di mata masyarakat. Misalnya saja, si C menjalankan dengan baik perannya sebagai seorang guru. Maka, setiap kali ada acara slametan kampung, si C tadi akan selalu didaulat oleh warga untuk memimpin doa atau mengambil jatah makanan yang pertama. Demikian juga status sosial yang lebih tinggi akan diterima oleh seorang biarawan yang bertekad untuk hidup selibat dan mendedikasikan hidupnya untuk umat.

Akhirnya, agar tiap individu di dalam masyarakat bisa memainkan peranan sosialnya dengan baik, maka tiap individu perlu dilatih untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan peranan sosialnya dalam masyarakat. Di dalam masyarakat, latihan semacam itu biasa disebut dengan sosialisasi. Sosialisasi mengandaikan adanya penyampaian, penyerahterimaan ide atau sistem nilai yang dilakukan oleh anggota masyarakat lama kepada anggota masyarakat baru. Proses sosialisasi itu sendiri tidak pernah selesai secara menyeluruh dan tuntas, karena selalu ada nilai-nilai baru yang berkembang di dalam masyarakat. Sosialisasi pun menjadi sesuatu yang mutlak perlu dilakukan, supaya tiap orang bisa menciptakan keseimbangan di dalam masyarakat. Bayangkan, bagaimana jadinya kehidupan di seminari, misalnya, jika anggota komunitas baru tidak mendapat sosialisasi tentang nilai, norma, ataupun fungsi dan kedudukan mereka masing-masing di dalam komunitas seminari tersebut?!.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s