TENTANG KITAB VEDA


Pengantar

Veda adalah kitab dasar agama Hindu. Kitab ini tersusun atas empat bagian, yakni Rg. Veda, Sama Veda Samhita, Yajur Veda Samhita, dan Atharva Veda Samhita. Dalam tradisi Hindu, kitab Veda diyakini sebagai ciptaan dewa Brahma atau wahyu dewa tertinggi yang disampaikan kepada para resi dalam bentuk mantra. Dengan kata lain, kitab ini bukan hasil karya manusia. Namun, apakah memang benar demikian? Rupanya tidak. Veda sejatinya adalah kitab sastra. Kitab ini terbentuk seiring dengan perkembangan sosio-religius masyarakat. Perkembangan sosio-religius tersebut terlukis dengan perubahan makna dan tujuan kurban serta mantra.

Dalam paper ini, kelompok akan mengurai ajaran dari keempat bagian kitab Veda, dan sekaligus  juga melihat perkembangan sosio-religius apa yang dilukiskan dalam keempat bagian kitab Veda tersebut.

Rg. Veda

Rg. Veda merupakan sastra Veda yang berbentuk puisi. Didalamnya, terungkap beberapa ajaran yang cukup penting. Pertama, berkaitan dengan sejarah. Dikisahkan bahwa bangsa Arya sedang melakukan ekspansi untuk memperoleh wilayah jajahan baru. Minuman keras, yang disebut SOMA, digunakan untuk membakar semangat. Lewat SOMA, mereka mendapat kekuatan dan keberanian yang berlipat ganda untuk bertempur dan menaklukkan musuh.

Kedua, berkaitan dengan kosmologi. Gagasan dasar ajaran ini adalah relasi  yang erat lagi unik antara alam dengan manusia. Pada saat itu, alam merupakan bagian terpenting dalam hidup manusia. Manusia tidak bisa lepas dari alam. Mengapa? karena alam memberikan segala hal yang dibutuhkan oleh manusia untuk dapat bertahan hidup, misalnya, makanan. Maka, kekuatan alam pun dipandang sebagai sesuatu yang menolong atau yang memberi kehidupan. Namun, adakalanya, kekuatan alam tersebut bisa berubah menjadi penghalang atau pembawa malapetaka. Misalnya, banjir yang terjadi akibat luapan air sungai, kekeringan akibat matahari yang terus muncul, dsb. Melihat kenyataan yang demikian, alam lantas dianggap sebagai sesuatu yang hidup, yang dapat diajak berdialog.

Dialog dengan kekuatan alam tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara kurban. Upacara kurban tersebut ditujukan kepada ‘si penguasa alam’ yang kekuatannya melebihi kekuatan manusia, dialah sosok yang mampu mengendalikan kekuatan alam yang mengerikan itu. Kesadaran semacam ini kemudian memunculkan pengertian tentang Dewa. Kekuatan-kekuatan alam lantas menjadi personifikasi dari perwujudan dewa. Sebut saja, matahari dipercaya sebagai dewa Surya, bumi sebagai dewa Prthivi, api sebagai dewa Agni, atau juga air sebagai dewa apas, dst.

Dengan demikian, dewa mereka adalah dewa yang paling mereka perlukan, yang hidup dalam keseharian mereka. Misalnya, jika matahari menjadi sesuatu yang sangat penting lagi perlu dalam hidup keseharian mereka, maka matahari itulah yang menjadi dewa tertinggi mereka, dan lantas menjadi dewa yang mereka puja. Sistem kepercayaan ini disebut henotheisme. Di kemudian hari, muncul paham yang menganggap bahwa seluruh alam semesta ini adalah dewa. Alam semesta lantas juga digambarkan sebagai dzat yang Mahatinggi, yang darinya segala sesuatu berasal. Paham yang demikian merupakan benih-benih dari teori pantheisme dan monisme.

Sementara itu, kurban yang dipersembahkan kepada dewa sifatnya do ut des, artinya saya berkurban untuk menunjukkan kesetiaan, dengan harapan agar saya menerima sesuatu. Atau, saya memberi(=berkurban) agar dewa juga memberi sesuatu kepada saya, misalnya dengan kemakmuran, kesejahteraan, terhentinya wabah atau kekeringan yang berkepanjangan, dst. Pada awalnya, kurban ini sederhana, dilakukan dalam lingkup keluarga. Kepala keluarga sendirilah yang menjadi imamnya. Perapian yang digunakan pun cuma satu. Namun, dalam perkembangannya, prosesi kurban menjadi lebih rumit. Jumlah perapian bertambah menjadi tiga, dan lantas ada juga pembagian petugas kurban. Peran seorang pendeta (brahman) menjadi begitu penting dalam upacara kurban, karena hanya melalui lewat merekalah upacara kurban bisa dilangsungkan. Berikut ini adalah susunan dan fungsi para petugas kurban besar:

  1. Hotar, bertugas  mengumumkan bahwa upacara di mulai. Hotar hanya mengenal Rg Veda.
  2. Adhvarya, bertugas sebagai pelaksana kurban, yang melakukan segala upacara sambil mengucapkan segala doa dan mantra. Adhvarya hanya mengenal YajurVeda.
  3. Udgatar, bertugas menyanyikan kidung-kidung yang mengiringi upacara. Udgatar hanya mengenal Sama Veda.
  4. Brahman, sebagai imam utama, yang bertugas melindungi upacara dari bahaya, agar berjalan dengan lancar dan mencapai sasaran. Berbeda dengan petugas yang lain, Brahman harus memiliki pengetahuan mendalam tentang keseluruhan kitab Veda.

Lebih jauh, perkembangan tentang prosesi kurban tersebut menunjukkan juga perkembangan sosial masyarakat. Kurban mulai berlangsung rumit karena ada tingkatan-tingkatan  sosial dalam masyarakat (disebut juga varna) yang membagi masyarakat dalam beberapa lapis. Lapisan tertinggi diisi oleh brahmana sebagai pemimpin upacara kurban (agama), menyusul kemudian ksatria yang sebagai pimpinan militer dan pemerintahan, lalu vaisya yang terdiri dari petani, pengrajin, dan terakhir, sudra yakni para buruh kasar. Jadi, dalam tingkatan ini, yang boleh menerimakan kurban hanyalah brahmana, tidak lagi seperti pelaksanaan kurban sebelumnya dimana tiap kepala keluarga bisa melakukan kurban.

2. Sama Veda Samhita

Sama Veda merupakan kidung (=saman), atau Veda untuk lagu. Hampir seluruh isinya diambil dari Rg Veda. Istilah sama berarti cara atau irama untuk mengucapkan doa dan nyanyian pujian. Oleh karena itu, syair-syair Sama Veda dikarang secara khusus untuk dilagukan dan digunakan untuk belajar bernyanyi. Biasanya, kidung-kidung dalam sama veda dinyanyikan oleh Udgatar dalam upacara kurban, terlebih pada saat kurban dipersembahkan.

Sama Veda sejatinya masih terpengaruh oleh ‘agama pribumi’ yang masih mengikuti kekuatan magis. Buktinya, ada beberapa lagu/syair dalam kitab ini yang tidak boleh dinyanyikan di sembarangan tempat, terutama di dalam kawasan di sekitar pemukiman/desa. Lagu itu harus dipelajari dan dinyanyikan di hutan, dalam keheningan total, jauh dari keramaian. Mengapa? sebab ada kepercayaan bahwa bunyi lolongan anjing dan lagu-lagu tertentu dapat mengganggu proses pendalaman Veda. Sebab, sekali lagi, Veda harus ddalami dalam keadaan tenang, hening.

3. Yajur Veda Samahita

Yajur Veda merupakan ‘buku ritual’ yang berisikan yajur/rapal/mantra yang diucapkan Adharva dalam upacara kurban. Dalam Yajur Veda, upacara kurban menjadi lebih rumit lagi, sebab ada peraturan-peraturan yang harus diikuti, pun pula ada mantra-mantra yang harus dihapal. Sementara itu, mantra-mantra tersebut sejatinya tidak dipakai untuk memuja para dewa, melainkan untuk mengubah kurban-kurban menjadi makanan dewa.[1] Melalui mantra-mantra, kurban dan bahan-bahan yang dikurbankan dipindahkan ke alam kedewataan, agar diteirima oleh para dewa. Dengan demikian, rapal-rapal itu sebenarnya ditujukan untuk memaksa para dewa supaya mengabulkan keinginan yang berkurban. Dengan rapal-rapal itu, mereka mencoba mempengaruhi para dewa, dengan berulang-ulang menyebut nama mereka.[2] Unsur magis lantas tampak semakin menonjol, terlebih dengan pengucapan kata ‘OM’ yang berulang-ulang.

Sehingga, dalam pemahaman semacam ini upacara kurban tidak lagi ditempatkan pada pola pikir do ut des, tapi lebih dari itu, kurban dipandang sebagai tuntutan kepada dewa supaya permohonan yang dilambungkan lewat upacara kurban bisa terkabul. Pengabulan permohonan tersebut dipandang sebagai balas jasa atau kompensasi yang harus diterima oleh orang yang melakukan kurban, mengingat prosesi dan peraturan yang sedemikian rumit, yang harus dilakukan saat  upacara kurban.

Kitab Yajur Veda Samhita sejatinya dibedakan menjadi dua, yakni Yajur Veda Putih, yang hanya berisi mantra dan doa yang harus diucapkan, dan Yajur Veda Hitam, selain berisi doa-doa dan tata upacara kurban, juga disertai dengan keterangan dan diskusi mengenai proses upacara itu.

Sementara itu, doa-doa ritual dalam Yajur Veda bisa dijabarkan sebagai berikut:[3]

  1. doa kurban ketika bulan baru atau waktu bulan penuh (Darsapurnamasa), di mana ada persembahan bagi nenek moyang (Pinda Ptryajna).
  2. ritual menyalakan api kurban (Agnihotra).
  3. doa kurban saat pergantian musim (Catur Masya).
  4. doa Vajapeya dalam upacara minum Soma untuk mendapat kekuatan dan keberanian (sura).
  5. doa bagi Rajasurya, yaitu kurban kerajaan pada waktu pentahtaan seorang raja, di mana ada upacara magis, seperti permainan dadu.
  6. kurban penting lainnya ialah Agnicayana, pembangunan altar untuk kurban bakaran.
  7. upacara Asvamedha, kurban yang hanya dilakukan oleh raja agung.
  8. upacara Purushamedha, upacara kurban manusia. Para ahli berpendapat bahwa tidak terjadi kurban manusia, tetapi hanya kurban simbolik yang menandakan pentingnya arti upacara itu.
  9. kurban sosial total ialah Sarvamedha, di mana raja memberikan semua miliknya, karena dia ingin menjadi pertapa.

4. Atharva Veda Samhita

Atharva Veda adalah Veda yang berasal Atharva. Siapa itu Atharva? Atharva pemimpin upacara kurban api. Upacara ini sering dilakukan oleh penduduk pribumi yang dikenal sebagai “pemuja api.” Dengan kata lain, Atharva Veda sejatinya merupakan gabungan kepercayaan antara bangsa Arya dengan bangsa pribumi. Oleh karena itu, dalam pandangan Hindu, Atharva Veda tidak termasuk dalam tiga Veda lainnya.

Isi kitab Atharva Veda adalah mantra-mantra sakti.[4] Mantra-mantra sakti tersebut digunakan oleh para Atharva untuk melawan kekuatan magis dari para Angira (iblis) yang mencelakkan atau mendatangkan hal-hal buruk bagi manusia, seperti: sakit, kerasukan roh jahat, dsb. Patut diingat bahwa pada waktu itu, kejahatan/kesialan/nasib buruk yang dialami oleh manusia selalu dianggap sebagai pengaruhatau disebabkan oleh kuasa roh jahat. Maka, jika ada orang sakit, pertama-tama yang harus dilakukan adalah memanggil para Atharva untuk mengusir roh jahat tersebut.

Lebih jauh, isi dan fungsi syair-syair dalam Atharva Veda bisa dijabarkan sebagai berikut:[5]

  1. untuk menyembuhkan penyakit seseorang.
  2. untuk mengusir makhluk halus, misalnya Gandharvas dan Apsaras (mahkluk halus penghuni pohon dan sungai), yang menggangu manusia.
  3. untuk  doa pemberkatan. Misalnya,  doa untuk sawah, doa litani para Dewa dengan refren “Bebaskanlah kami dari sengsara dan dosa (AMHAS). Sekali lagi, seperti yang telah disebut diatas, keburukan/sengsara/dosa erat kaitannya dengan Roh Jahat. Maka, jika ingin memperolah hasil yang memuaskan dari pengolahan sawah, sawah tersebut harus diberkati dulu supaya terbebas dari roh-roh jahat yang ada didalamnya.
  4. doa untuk keselamatan suami-istri. Namun, selain itu, juga digunakan untuk mendatangkan kejahatan bagi wanita lain, yaitu untuk merebut wanita yang diinginkan atau merugikan wanita saingannya dalam hal cinta.
  5. ada juga mantra-mantra magis untuk raja.

Sementara itu, Atharva Veda mencantumkan doa yang memberikan kekuatan magis bagi para Brahmana. Merekalah orang yang bisa “menguasai” dewa dengan kekuatan magisnya lewat upacara kurban. Oleh karena itu, adalah wajib hukumnya untuk menghormati para Brahmana dan memberi hadiah melimpah kepada mereka.

Penutup

Menjadi jelas sekarang bahwa Veda bukanlah sebuah ‘kitab keagamaan murni’. Kitab Veda, sekali lagi, menunjukkan dinamika dan perkembangan sosio-religius bangsa Arya yang berdiam diantara bangsa pribumi di India. Keterkaitan antara perkembangan masyarakat dan hidup keagamaan nampak dalam perubahan makna dan tujuan kurban atau mantra dalam tiap bagian kitab Veda.

Lebih jauh, keempat kitab Veda ternyata memiliki rincian ajaran yang beragam bahkan berbeda satu sama lain, misalnya soal pemaknaan kurban. Dalam Rg. Veda kurban dipahami sebagai do ut des. Pemahaman semacam ini tidak lagi kita temukan dalam Yajur Veda. Meski berbeda, kitab Veda sejatinya tidak terpisah. Keseluruhan bagian dari kitab Veda, kecuali mungkin Atharva Veda, merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Hal ini nampak dalam penggunaannya dalam upacara kurban.

Daftar bacaan

Hardiwijono, Harun. Agama Hindu dan Budha. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2000.

Reksosusilo. Filsafat India. Diktat, Malang: STFT Widya Sasana.


[1] Harun Hardiwijono, Agama Hindu dan Budha, Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2000, hlm 18

[2] Ibid

[3] Reksosusilo, Filsafat India, Diktat, Malang: STFT Widya Sasana, hlm. 7.

[4] Harun Hardiwijono, Loc.cit.

[5] Reksosusilo, Op. Cit,hlm. 8.

2 thoughts on “TENTANG KITAB VEDA

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s