MOHANDAS KARAMCHAND GANDHI (1869-1948)


Di setiap periode sejarah, bermunculan orang-orang yang kehadirannya membawa perubahan bagi arah sejarah dunia. Salah satunya adalah Gandhi. Dengan cara yang amat khas dan sederhana, tanpa dengan mengangkat senjata, Gandhi mampu mengubah arah sejarah India. Gandhi tidak mengangap bahwa dirinya adalah seorang filsuf atau mistikus. Meski demikian, tak ada keraguan sedikitpun bahwa dibalik tindakan-tindakannya terdapat sebuah pemikiran yang luas lagi mendalam. Garis besar pemikiran Gandhi sejatinya mengarah pada Advaita (nondualisme) Vedanta, sebuah perpaduan dengan rasa kekaguman yang mendalam dari etika-etika Bhagavad Gita. Dari dasar-dasar kepercayaan tersebut, Gandhi merumuskan sebuah etika, program politik atau ekonomi, yang menyentuh setiap aspek kehidupan.

Melalui paper sederhana ini, penulis hendak menampilkan kisah hidup, sistem pemikiran dan/atau ajaran-ajaran Gandhi yang mampu menggerakkan dan menginspirasi banyak orang. Paper ini didasarkan pada tulisan Diane Collinson dan Robert Wilkinson tentang Gandhi dalam buku Thirty-Five Oriental Philosophers. Rujukan dari sumber-sumber lain akan penulis gunakan sejauh memperkuat informasi dan argumen yang dikemukakan oleh kedua penulis tersebut.

Riwayat hidup

Gandhi lahir pada tanggal 2 Oktober 1869 di Porbandar, ibu kota kerajaan Gujarat di bagian barat India. Ayahnya adalah seorang Perdana Menteri di Porbandar, sementara ibunya, Putlibai, membagi waktunya antara mengurus keluarga dengan melakukan ritual-ritual keagamaan. Gandhi tumbuh dalam suasana religius yang kental. Keluarganya merupakan penganut setia paham Waisnawa.[1] Dalam atmosfer religius keluarganya inilah, Gandhi, sedari kecil, mulai menghirup semangat ahimsa (nir-kekerasan) dan praktek berpuasa sebagai upaya pemurnian diri.

Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan setempat, dimana ia tidak terlalu menonjol, dan melangsungkan pernikahan pada usia yang masih amat muda (13 tahun),2 keluarganya memutuskan bahwa ia harus menjadi seorang pengacara. Untuk menjadi seorang pengacara, Gandhi harus meneruskan pendidikannya di Inggris. Gandhi memulai perjalanannya ke Inggris pada akhir tahun 1888. Ia tinggal disana sampai tahun 1891.

Kembali ke India, Gandhi menyadari bahwa kecakapannya tidak cukup memberinya kesempatan untuk memperoleh kesuksesan karier. Sifatnya yang pemalu tidak membantunya untuk mendapat nilai lebih dari banyak orang yang berprofesi sama. Akhirnya, ia menerima tawaran dari Dada Abdulah, seorang pemilik kapal dan pedagang besar dari Natal, Afrika Selatan. Dia mengundang Gandhi untuk membantu perusahaannya menangani permasalahan hukum, dengan masa kontrak selama 1 tahun.3 Ia berangkat ke Afrika Selatan pada tahun 1893, dimana pengalaman-pengalaman selama disana akan mengubah tujuan hidupnya. Tekanan rasial4 terhadap orang-orang India di Afrika Selatan yang dilakukan oleh warga Eropa mengubah Gandhi menjadi seorang aktivis politik. Ternyata, tidak hanya selama setahun  ia tinggal di Afrika Selatan, melainkan sampai 21 tahun (1914). Dalam kurun waktu itu, dengan tanpa lelah, ia menentang ketidakadilan hukum yang terjadi di sana, khususnya pelanggaran struktural terhadap hak-hak sipil komunitas India yang dilakukan oleh pemerintah Afrika Selatan. Ia mengembangkan teknik Satyagraha atau perlawanan tanpa kekerasan untuk menentang ketidakadilan hukum tersebut.

Meski demikian, selama perang Boer (1899-1902), dengan masih tetap berpegang pada prinsipnya, Gandhi menganjurkan agar orang-orang India menjalankan kewajibannya sebagai anggota koloni Natal. Ia lantas mengorganisir regu pertolongan (korps ambulans) yang terdiri dari ribuan sukarelawan orang India yang memberikan pelayanan selama peperangan berlangsung. Akhirnya, pada tahun 1914, setelah memenangkan serangkaian perjuangan yang meletihkan sekaligus mengagumkan untuk kemerdekaan hak sipil bagi orang India di Afrika Selatan, Gandhi memutuskan kembali ke India.

Pada tahun-tahun awal setelah kepindahannya dari Afrika Selatan, Gandhi mengambil bagian kecil dalam dunia politik India. Gandhi akhirnya tergerak untuk melakukan aksi politik pada tahun 1919, sebagai upaya perlawanan untuk mengusulkan perundang-undangan yang legal menurut pemerintahan Inggris bagi para terdakwa yang dipenjara tanpa melalui proses persidangan. Sejak saat itu sampai akhir hidupnya, Gandhi tidak pernah jauh dari perjuangan untuk kemerdekaan India. Gandhi menggunakan teknik satyagraha dalam beberapa kesempatan untuk membuat pengaruh yang besar. Ia mengubah Kongres Nasional India menjadi sebuah kekuatan politik yang besar.

Selain kemerdekaan India, impian Gandhi yang terbesar adalah persatuan antara kaum Hindu dan Muslim.  Tapi, kenyataan  ternyata berkata lain. Pada tanggal 15 Agustus 1947, India memang mendapat kemerdekan dari Inggris, namun kemerdekaan tersebut dibarengi dengan pendeklarasian negara Pakistan oleh kaum Muslim, yang memisahkan diri dari kaum Hindu di India. Kenyataan tersebut dengan segera membuyarkan impian Gandhi. Akhirnya, yang bisa ia lakukan hanya melakukan rekonsiliasi atas kekerasan dan kerusuhan yang menyertai pemisahan antarkedua komunitas religius tersebut. Usaha rekonsiliasinya menuai kesuksesan.[2] Tapi, disamping itu, usaha tersebut juga menimbulkan kecurigaan diantara kedua belah pihak yang bermusuhan. Bagi orang-orang Hindu, Gandhi dicurigai karena ia dianggap sebagai kawan kaum muslim, sedangkan bagi kaum Muslim, ia dicurigai karena dia sendiri beragama Hindu. Itulah sebabnya seorang Hindu fundamentalis, yang bernama Nathuram Godse, menembaknya hingga mati pada tanggal 30 januari 1948 di Delhi.

Ajaran-ajaran:

1. Tentang Tuhan atau Kebenaran

Dasar dari sistem pemikiran Gandhi adalah pandangannya tentang hakekat realitas absolut. Namun, pandangan tersebut tidak merujuk pada Brahman (seperti pada advataisme), tapi pada Satya (Kebenaran), sebuah terminologi yang berasal dari Sat atau Ada. Hanya Satya atau Kebenaran yang sungguh-sungguh ada dalam realitas. Oleh karena itu, Sat atau Kebenaran barangkali merupakan nama Tuhan yang paling penting.[3] Gandhi menandaskan:

Kebenaran merupakan bahan dimana segala hal dibentuk, yang hidup oleh keutamaan kekuatannya sendiri, yang tidak ditopang oleh apapun juga, tapi menopang segala hal yang ada. Hanya kebenaran yang abadi, yang lainnya hanya sementara.

Tuhan atau Kebenaran atau Ada itu nondual, dan melebihi pendeskripsian dalam terminologi konseptual. Ada itu nondual, maka tidak tepat jika menyatakan bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat yang seringkali dilekatkan padanya, misalnya: pemurah, penyayang, pemaaf, dsb, karena kepemilikan sifat mengandaikan bahwa Tuhan itu bisa dianalisa dan tidak memiliki kesatuan. Oleh karena itu, Gandhi menekankan bahwa Kebenaran bukan sifat dari Tuhan, tapi identik dengan Tuhan: “lebih tepat berkata bahwa Kebenaran itu adalah Tuhan, daripada berkata bahwa Tuhan itu adalah kebenaran,” demikian tandas Gandhi. Lebih jauh, Gandhi menambahkan bahwa dimana ada kebenaran disitu ada pengetahuan  (chit), dan dimana ada pengetahuan disitu ada kebahagiaan (ananda). Dalam cara pandang semacam itu, Gandhi dapat menerima penggambaran Hindu klasik tentang dasar realitas sebagai sat-chit-ananda.

Karena Tuhan (Kebenaran atau Ada) itu nondual, maka Tuhan tidak dapat menjadi objek pengalaman inderawi dan rasionalitas manusia, sebab keduanya merupakan cara-cara kesadaran konseptual. Tuhan itu melampaui konsepsi-konsepsi intelektual manusia. Oleh karena itu, kita akan gagal menyelami Tuhan, jika hanya menggunakan akal budi dan indera semata, karena, sekali lagi, Tuhan melampauinya. Namun, jika ingin Tuhan itu bisa dialami, maka harus menggunakan cara-cara lain. Gandhi, berbeda dengan misalnya: Vivekananda dan Aurobindo, menyangkal bahwa dirinya telah memiliki kesadaran mistik secara langsung tentang Tuhan. Tetapi, Gandhi mengakui bahwa ia memiliki “kilasan-kilasan” tentang Tuhan, dan “kilasan-kilasan” tersebut diartikannya sebagai iman. Oleh Gandhi, istilah “iman” tidak dimaksudkannya sebagai suatu kepercayaan yang dibangun atas dasar “pengalaman mistik,” tapi lebih pada suatu cara kesadaran yang bebas, baik secara akal budi maupun inderawi: “Ada kekuatan misterius yang tak terdefinisikan, yang melingkupi segala sesuatu. Aku bisa merasakannya, meskipun aku tidak mampu melihatnya. Kekuatan itu melebihi persepsi inderawi, dan dimana ada pengejawantahan yang melampaui kesadaran panca indera dan akal budi, pastilah itu sebuah pengejawantahan mutlak dan sempurna.” Lagi, “Iman  sesungguhnya tidak bertentangan dengan akal budi, tapi mengatasinya. Iman itu  bekerja di luar ranah akal budi.”

Intuisi iman bukanlah kesadaran tentang sesuatu di luar diri kita, melainkan di dalam diri kita. Gandhi menerima doktrin advaitis yang mengatakan bahwa Atman atau jiwa yang ada di dalam diri kita itu identik dengan Tuhan: ‘Tuhan bukan seseorang yang berada di luar diri kita atau yang berada jauh dari alam semesta. Dia melingkupi segala sesuatu. Dia itu Mahatahu sekaligus juga Mahakuasa. Atman itu sama dalam diri setiap orang. Metafisika advaitis tersebut  membawa konsekuensi lanjut, yakni, jika realitas itu satu dan ilahi, maka berbuat jahat terhadap orang lain atau sesuatu yang lain sama dengan berbuat jahat terhadap Tuhan. Pemikiran ini mendasari seluruh etika dan sikap politik Gandhi selanjutnya.

2. Tentang Ahimsa

Tujuan hidup, menurut etika Gandhi, adalah untuk melayani Tuhan, dan satu-satunya jalan untuk melakukan hal tersebut adalah dengan mempraktekkan ahimsa: artinya nir-kekerasan (himsa = kekerasan), tapi kata bahasa Inggris yang lebih baik untuk istilah ini adalah kasih, yang digunakan dalam rasa atau pengertian yang sama dengan ajaran Kristiani untuk mengasihi orang lain seperti diri sendiri. Dengan demikian, bagi Gandhi, makna yang terkandung dari ahimsa jauh lebih luas daripada sekadar ungkapan penegasian, misalnya: jangan membunuh, jangan melukai, jangan menyerang, dsb. Ahimsa adalah ungkapan cinta dalam bentuknya yang positif. Cinta yang tidak hanya tertuju pada orang-orang disekeliling kita, tapi bahkan, sama seperti ajaran Kristiani, cinta yang harus diberikan kepada musuh. Sehingga, dalam bentuk positifnya, ahimsa bermakna sebagai cinta yang tertinggi, dharma yang paling agung.[4]

Lebih jauh, Gandhi melihat kesatuan yang tak terpisahkan antara Kebenaran dan ahimsa. Ahimsa adalah jalan dan Kebenaran adalah tujuannya. Meski demikian, menurutnya, tidaklah tepat membedakan antara jalan dan tujuan. Pembedaan antara cara dan tujuan bagi kaum nondualis, semacam Gandhi, itu sama tidak nyatanya dengan pembedaan-pembedaan konseptual yang lain, dan dengan demikian Gandhi menganggap cara dan tujuan tersebut sebagai istilah atau gagasan yang dapat saling dipertukarkan (intersubstituable):

Ketika kamu ingin menemukan Kebenaran sebagai Tuhan, satu-satunya ‘kekayaan’  yang tak dapat dielakkan dariNya adalah Cinta, yakni, nir-kekerasan, dan karena Aku percaya bahwa pada akhirnya ‘kekayaan’ tersebut dapat ditukar dengan pengertian lain, maka Aku tidak akan ragu-ragu berkata bahwa Tuhan adalah Cinta.

Satu-satunya cara untuk mengikuti ajaran ahimsa adalah dengan melayani orang lain: Tuhan hadir dalam diri setiap orang, dan semuanya harus menjadi objek pelayanan kita. Jika kita melayani orang lain, kita harus meminggirkan keinginan-keinginan pribadi kita. Dengan kata lain, kita harus menempatkan diri kita pada tempat yang paling akhir.

Aku harus merendahkan diriku. Selama seseorang tidak dengan kehendak bebas menempatkan dirinya pada tempat yang paling akhir dibanding makhluk-makhluk ciptaan lain, maka tidak ada keselamatan untuknya. Ahimsa adalah batas terjauh dari kemanusiaan.

Untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan kemauan untuk melakukan disiplin dan pengendalian diri. Orang yang telah menaklukkan keinginan diri dan menjadi bebas untuk mengasihi, oleh Gandhi, digambarkan dalam terminologi Gita sebagai Sthitprajana atau Samadhista (satu keteguhan dalam roh).

3. Tentang Sarvodaya

Ajaran ahimsa akan menghantar pada perwujudan salah satu cita-cita Gandhi yang paling dikagumi, yakni Sarvodaya atau kebaikan untuk semuanya. Sebuah cita-cita yang didasarkan pada prinsip nondualisme dan ahimsa: “karena segala yang ada adalah Tuhan, maka setiap orang harus berusaha untuk mewujudkan kebaikan bagi semuanya.” Doktrin tersebut membawa Gandhi pada konflik dengan beberapa kepercayaan dan institusi, baik di Barat (Eropa) maupun di India. Namun, Gandhi tetap mengenalkan pandangan-pandangannya dengan cara yang amat khas dan pantang mundur demi kebenaran. Dalam Sarvodaya, utilitarianisme harus ditolak sebagai sistem moral yang tidak sesuai, karena utilitarianisme hanya mencari kebaikan untuk orang-orang mayoritas, tidak untuk semua.

Lagi, Sarvodaya menuntut prinsip egalitarianisme yang keras, memperlakukan orang lain dengan hormat. Oleh karena itu, Gandhi menentang segala bentuk perlakuan yang tidak adil pada manusia. Programnya menentang rasisme di Afrika Selatan adalah salah satu contohnya. Dia juga bereaksi dengan setiap bentuk ketidaksederajadan (inegalitarianisme) yang tercantum dalam institusi-institusi negaranya. Prinsip egaliter tersebut berasal dari doktrin kesatuan Atman yang menganggap bahwa tiap orang memiliki atman yang satu dan sama, sehingga baik laki-laki maupun perempuan memiliki nilai dan berhak mendapat perlakuan yang sama.

Pendapatku ialah bahwa secara fundamental laki-laki dan perempuan itu satu (sama). Jiwa dari keduanya itu sama. Keduanya hidup dalam kehidupan yang sama dan memiliki perasaan-perasaan yang sama. Keduanya saling melengkapi satu sama lain.

Namun, tidak berarti bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peranan yang sama. Gandhi menganjurkan pembagian kerja tradisional, dimana perempuan berperan sebagai pengurus rumah tangga dan laki-laki berperan sebagai pencari nafkah. Meski demikian, Gandhi menuntut kesamaan nilai yang penuh dari peranan-peranan tersebut, dan didasarkan pada “kesucian” pekerjaan diantara keduanya. Penghayatan terhadap Sarvodaya lantas mendorong Gandhi untuk menentang sistem kasta di India, yang mengasingkan beribu-ribu orang di negaranya ke dalam status tak berkasta (kaum pariah). Orang-orang tak berkasta, pada waktu itu, adalah orang-orang yang dinajiskan, tapi, oleh Gandhi orang-orang tersebut ia sebut dengan istilah  Harijans (anak-anak Tuhan). Di mata Gandhi, mereka sangatlah terhormat karena mereka juga makhluk ciptaan Tuhan.[5]

Kenyataan yang berat sebelah tersebut membentuk pandangan-pandangan Gandhi mengenai agama. Kepada setiap orang yang meyakini nondualisme, ia mengatakan bahwa bentuk-bentuk luar dari semua agama adalah sebuah konsekuensi perbedaan yang kecil. Realitas yang sama menyatukan semua agama tersebut, sehinga tidak masalah apa yang menjadi nama dan bentuk-bentuk yang digunakan untuk menggambarkan dan memujiNya, dan begitu juga dengan metafisika sebagai suatu dasar yang sempurna bagi toleransi agama. Setiap agama mengakui nilai Kebenaran, dan hal ini, menurut pandangan Gandhi, adalah fungsi dari agama-agama tersebut.

Aku meyakini kebenaran fundamental yang mendasari semua agama besar di dunia ini. Aku percaya bahwa semua agama itu adalah karunia ilahi, dan aku yakin bahwa semua agama tersebut diperlukan oleh manusia. Aku juga percaya bahwa, hanya jika kita dapat membaca kitab suci orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita dari sudut pandang mereka masing-masing, maka kita akan menemukan bahwa pada dasarnya kita semua adalah satu dan kita bisa saling membantu satu sama lain.

Konsekuensi lanjut dari nondualisme adalah bahwa agama bukan sebuah komponen yang fakultatif dalam kehidupan: Atman dan Brahman/Sat-chit-ananda itu sama (identik), dan dengan demikian Tuhan menjadi bagian dari esensi kita; oleh karena itu, “tidak ada orang yang hidup tanpa agama.” Ada beberapa orang yang dalam egotisme alasan-alasan mereka mengatakan bahwa mereka tidak berurusan dengan agama. Tapi, hal tersebut sama seperti seseorang yang berkata bahwa dia bernafas tapi dia tidak memiliki hidung. Atman yang sama hadir dalam diri kita semua. Oleh karena itu, menurut Gandhi, menyangkal hal-hal yang mendasar dari setiap agama adalah sebuah kekeliruan yang besar. Lebih jauh, pandangan tersebut berasal dari prinsip-prinsip ahimsa dan cita-cita sarvodaya yang menganggap bahwa agama harus berfungsi untuk kebaikan semuanya. Gandhi tidak setuju pada setiap bentuk kepercayaan yang menganjurkan pengikutnya untuk menarik diri dari dunia, ‘Agama yang tidak mengambil bagian dalam hal-hal praktis dan tidak membantu untuk memecahkan masalah yang ada di dalamnya, adalah bukan sebuah agama,’ katanya.

4. Tentang Politik

Berangkat dari pemahaman diatas, maka politik yang sungguh-sungguh memiliki sikap untuk kesejahteraan masing-masing individu, tidak bisa lepas dari agama, inilah tepatnya pandangan Gandhi. Sikap politiknya berasal dari pemikrian metafisika, etika, dan agama yang digabung dengan pemikiran-pemikiran tentang bentuk-bentuk pemerintahan, dasar negara, dan konsep-konsep yang berhubungan dengannya. Gandhi berpegang teguh pada prinsip nondualisme (dan juga keyakinan tentang Tuhan yang hadir dimana-mana), ahimsa dan Sarvodaya. Oleh karena itu, politik mendapat perhatian yang besar darinya:

Bagiku, pemisahan politik dari agama sepenuhnya tidak tepat, bahkan harus dihindari. Politik berkaitan dengan urusan bangsa, dan itu berarti terkait dengan kesejahteraan bangsa. Sehingga politik harus menjadi bagian dari kepedulian bagi orang yang memiliki semangat religius, seorang pencari Tuhan dan Kebenaran…Oleh karena itu, dalam politik kita juga harus menegakkan Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah di bumi akan datang jika semua orang hidup dalam cahaya Kebenaran. Mereka harus terus-menerus menempatkan keinginan-keinginan pribadi mereka pada tempat terakhir, dengan demikian, tidak akan terjadi konflik kepentingan. Dan, dimana tidak ada konflik kepentingan, maka tidak ada kebutuhan untuk mendirikan institusi-institusi politik, termasuk negara. Dengan demikian, cita-cita politik Gandhi menjadi sebuah anarki, yakni, kondisi masyarakat dimana tidak ada pemerintahan: “Masyarakat yang disusun dan dijalankan dalam dasar nir-kekerasan yang sempurna (yakni, ahimsa) akan menjadi sebuah anarki yang murni.” Bentuk konkret dan sederhana dari gagasan Gandhi ini bisa kita lihat dalam cara pengelolaan ashram yang ia dirikan.[6]

Gandhi tentu saja menyadari bahwa visi tersebut hanya sebatas idealisasi. Dalam prakteknya, sistem politik yang didasarkan pada gagasan tentang negara sangat dibutuhkan untuk menentukan arah dan tujuan yang hendak dicapai oleh negara tersebut di kemudian hari. Namun, bagaimanapun juga, Gandhi tetap memegang teguh cita-citanya. Gandhi menganut pandangan Thoreau yang menganggap bahwa bentuk pemerintahan yang terbaik adalah pemerintahan yang hanya memiliki sedikit kuasa untuk memerintah. Sebab, semakin sedikit kekuasaan yang dimiliki oleh pemerintah, maka semakin sedikit ia akan mencampuri privasi warga negaranya. Dengan demikian, setiap warga negara tidak akan terdorong untuk menjadi malas dan kurang percaya diri, karena mereka semua memilik hak untuk bereksplorasi dan menentukan hidup dan arah negara mereka sendiri.

Ajaran dan perjuangan politik Gandhi sejatinya ditujukan untuk kemerdekaan India. Bagi Gandhi, kemerdekaan tersebut baru tercapai jika India membentuk swaraj, yakni pemerintahan sendiri. Swaraj akan meningkatkan rasa kepercayaan diri kepada setiap rakyat India. Lebih jauh, swaraj juga bisa digunakan untuk memberitahukan cita-cita ahimsa. Swaraj yang didasarkan pada ahimsa menyangkut prinsip egalitarianisme mutlak terhadap seluruh warga negara (dan juga toleransi religius yang menyeluruh), serta hubungan yang baik dengan negara-negara lain.

5. Tentang Satyagraha

Teknik politik yang dikembangkan oleh Gandhi, sejak dari pengalamannya selama bertahun-tahun di Afrika Selatan, mengarahkannya pada cita-cita yang lebih lanjut, yakni satyagraha. Satyagraha secara harfiah berarti “kekuatan Kebenaran” atau ungkapan yang lain “memegang teguh Kebenaran.” Dalam prakteknya, satyagraha merupakan teknik yang sesungguhnya untuk perlawanan dengan menggunakan nir-kekerasan: Gandhi menggunakan istilah ini untuk membedakannya dengan perlawanan pasif. Perlawanan pasif dipahami sebagai senjata orang-orang lemah dan tidak mengharamkan penggunaan kekuatan fisik atau kekerasan demi mencapai tujuannya. Sedangkan satyagraha merupakan senjata dari orang terkuat dan mengharamkan semua penggunaan kekerasan dalam bentuk apapun.[7] Setiap kekerasan bertentangan dengan ahimsa dan sarvodaya, dan hal tersebut sepenuhnya diluar dari satyagraha.

Tujuan utama satyagraha adalah untuk menghentikan kekeliruan/kesalahan seseorang dengan kesabaran dan simpati. Dan, satu-satunya jalan yang sejati untuk mengubah keyakinan seseorang adalah menyentuh mereka secara emosional. Sikap yang hendak diperjuangkan dalam satyagraha adalah menolak untuk tunduk pada hukum yang tidak adil atau kebiasaan-kebiasaan yang tidak dapat disetujui lainnya atau menerima konsekuensi-konsekuensi tanpa pembelaan, entah itu menyangkut kehilangan tanah milik, hak-hak, kebebasan atau bahkan hidup itu sendiri.

Karena teknik tersebut tidak diperuntukkan bagi mereka yang penakut/pengecut, maka, dalam pemikiran Gandhi, harus ada pelatihan spiritual selama beberapa waktu lamanya. Satyagrahi harus menjadi acuh tak acuh pada penderitaan, hukuman penjara, rasa khawatir akan kehilangan tanah milik, kekayaan, bahkan nyawa sekalipun. Seseorang yang acuh tak acuh pada diri sendiri adalah orang yang telah menyadari Kebenaran dan yang memenuhi kriteria sebagai satyagrahi, sebuah keyakinan iman yang sempurna. Gandhi sejalan dengan tradisi klasik Hindu dan Budha yang memercayai bahwa hanya orang yang tidak hidup dalam egonya sendiri yang bisa lepas dari rasa takut. Gandhi juga berpendapat bahwa kaum selibat (Brahmacharya) merupakan barisan terdepan untuk memimpin satyagrahi, karena tanpa mereka akan ada kekurangan kekuatan dari dalam. Tujuan satyagrahi pada hakekatnya sama dengan tujuan manusia atau Sthitprajna (orang yang memegang teguh kebijaksanaan/Kebenaran) seperti yang telah diuraikan diatas.

Tinjauan Kritis

Pada bagian ini, penulis mencoba untuk mengurai dan mengkritisi garis-garis pemikiran dan/atau ajaran-ajaran Gandhi yang terasa ‘kabur’ dalam uraian diatas.

Pertama, soal pernyataan bahwa Kebenaran adalah Tuhan. Tidakkah hal ini merupakan usaha rasionalisasi Kebenaran secara berlebihan? Rasanya tidak. Pernyataan bahwa Kebenaran adalah Tuhan merupakan buah pergulatan dan pencarian Gandhi terhadap esensi Kebenaran itu sendiri. Kebenaran, baginya, merupakan unsur fundamental dari semua agama. Tuhan, barangkali, akan disebut dan diinterpretasikan secara berbeda-beda oleh masing-masing pemeluk agama, tapi tidak demikian dengan Kebenaran.  Kebenaran itu satu dan sama dalam semua agama. Meski demikian, Kebenaran itu tidak hanya menjadi milik dari orang-orang yang beragama. Kebenaran itu milik semua orang yang mengakui nilai-nilai luhur kehidupan. Orang ateis sekalipun, meskipun ia meragukan esksistensi Tuhan, ia tidak akan meragukan eksistensi Kebenaran.

Lebih jauh, proposisi tentang Kebenaran adalah Tuhan rupanya jauh lebih tepat dibanding proposisi yang  sebaliknya, yakni, Tuhan adalah Kebenaran. Pada proposisi yang kedua, kita akan mendapati beragam bentuk fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama ini pada akhirnya akan melahirkan bentuk-bentuk kekerasan yang berlabel agama atau yang mengatas-namakan Tuhan demi sebuah penegakkan kebenaran agama yang membabi buta.

Kedua, soal doktrin advaitis yang menyatakan bahwa Atman ada dalam diri setiap orang. Dan, Atman itu sendiri identik dengan Tuhan. Permasalahannya, jika Atman, yang adalah Tuhan itu, hadir dalam diri setiap orang, lantas bagaimana menjelaskan realitas kejahatan yang dilakukan oleh manusia? Dimanakah peran Atman ketika manusia berbuat kejahatan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sama dengan pertanyaan mengenai eksistensi Tuhan yang mengemuka belakangan ini, yakni: jika Tuhan itu ada, mengapa Ia sengaja membiarkan kejahatan ada di dunia? Apakah Ia tidak mampu menyelesaikan kejahatan tersebut, ataukah Ia tidak mau?

“Kejahatan adalah kekurangan dari Kebaikan,” demikian cetusan metafisika Barat, sebagaimana yang diserukan oleh Thomas Aquinas untuk mengurai benang kusut misteri kejahatan. Ketika kejahatan itu muncul, bukan berarti pada saat yang sama Kebaikan itu tidak ada. Kebaikan itu tetap ada, namun dalam kadar yang berbeda. Pemahaman yang senada bisa dikenakan untuk memahami misteri kejahatan dalam metafisika advaitis. Atman itu tetap eksisten dalam diri manusia, ia tidak dapat dikatakan hilang atau mati tatkala manusia melakukan tindak kejahatan. Hanya saja, kehadirannya sebagai sebuah piranti moral ditekan, ‘dipenjara’ oleh niat buruk manusia. Sehingga, dalam cara pandang yang demikian, yang buruk dan harus ditolak adalah tindak kejahatan seseorang, bukannya diri in se orang tersebut.

Ketiga, soal kesatuan antara cara dan tujuan dalam ahimsa. Bukankah cara dan tujuan adalah dua hal yang berbeda? Bagaimana kita bisa memahaminya? Gandhi beranggapan bahwa cara adalah tujuan yang masih berproses atau dalam tahap “menjadi.” Sebab, cara sesungguhya bersifat dinamis dan secara kreatif berorientasi pada tujuan. Secara amat menarik, Gandhi menjelaskan keterkaitan antara cara dan tujuan dengan menggunakan analogi biji dan pohon. Seperti yang kita ketahui, biji adalah cikal bakal pohon. Antara keduanya tidak bisa saling dipisahkan, karena biji merupakan pohon dalam tahap in potensia. Cara, oleh Gandhi, diumpamakan sebagai biji, sedangkan tujuan adalah pohonnya. Dengan demikian, dalam perumpamaan semacam itu, menjadi jelas bahwa sesungguhnya ada keterkaitan yang tidak bisa diganggu gugat antara cara dengan tujuan, sebagaimana keterkaitan antara biji dengan pohon.[8]

Keempat, soal gagasan tentang penyatuan antara politik dan agama. Sampai sejauh mana penyatuan tersebut dijalankan? Tidakkah Gandhi berpikir bahwa penyatuan tersebut malah akan menjadi persoalan yang runyam? Sebab, bisa-bisa terjadi bentrokan antara komunitas-komunitas keagamaan yang ada di India. Keyakinan agama mana yang harus disatukan dengan cita-cita politik? Dan, jika agama diletakkan dalam ranah praktis, politis, tidakkah akan membuat agama tersebut kehilangan roh transendennya? Penyatuan antara politik dan agama sejatinya diberi landasan kuat oleh Gandhi. Menurutnya, agama harus menjadi pijakan moral dalam praktek-praktek dan kebijakan-kebijkan politis.[9] Mengapa harus agama? Karena, seperti yang telah disinggung diatas, unsur fundamental dari agama adalah Kebenaran. Jadi, pertanyaan tentang keyakinan agama mana yang harus atau layak disatukan dengan politik dan akibat-akibat yang menyusul, tidak menjadi persoalan bagi Gandhi. Sebab, yang dilirik oleh Gandhi dari tiap agama adalah Kebenaran fundamentalnya, bukannya perbedaan ritual atau artikualsinya tentang Tuhan. Dengan demikian, Politik yang disandarkan pada terang Kebenaran bisa dipastikan akan mampu membawa kesejahteraan pada rakyat.

Refleksi dan Relevansi

Gandhi mewariskan semangat ajaran dan pemikiran yang tak pernah habis digali untuk menjawabi persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan dewasa ini. Pada bagian ini, penulis akan melihat warisan semangat ajaran Gandhi tersebut dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia.

Pertama, Gandhi, lewat pemikirannya tentang Kebenaran, mewariskan semangat pluralisme beragama. Meskipun beragama Hindu, ia tetap menghormati dan menghargai agama lain (Islam). Ia tidak membabi buta mengikuti paham keagamaannya. Sebab, seperti yang telah ditulis diatas, bagi Gandhi, Kebenaranlah yang menjadi Tuhan, dan bukan sebaliknya. Sikap semacam itu mutlak kita perlukan, mengingat realitas keagamaan bangsa kita yang beragam. Harus diakui bahwa kita sudah terlampau lelah mendengar berita-berita tentang aksi fundamentalisme agama yang berujung pada kekacauan, kekerasan, dan bahkan kematian. Sebut saja, aksi-aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh para teroris (fundamentalis?!) dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini. Dengan menyerukan nama Tuhan, dan juga dengan dalih menegakkan keadilan/kebenaran Tuhan, mereka seenaknya saja bersitegang atau bahkan membunuhi orang-orang yang berbeda keyakinan atau beda cara pandang dengan mereka. Tindakan-tindakan yang demikian kiranya tidak perlu terjadi lagi. Keanekaragaman agama yang kita miliki harusnya menjadi kekayaan yang tak ternilai harganya bagi bangsa kita. Gandhi telah menunjukkkan caranya. Ia menghargai setiap bentuk keagamaan yang ada. Ia tidak tertarik dengan bentuk-bentuk penghayatan keagamaan secara radikal lagi fundamental yang bisa memecah belah keutuhan bangsa.

Kedua, lewat gerakan satyagraha, Gandhi mempelopori cara perubahan secara damai atau tanpa menggunakan kekerasan. Cara tersebut terbukti efektif untuk menarik simpati dunia. Perjuangan satyagraha Gandhi akhirnya mencapai hasil dengan pengakuan akan kemerdekaan India dari penguasa Inggris. Aksi yang serupa pernah dilakukan oleh rakyat Filipina, dengan gerakan people power-nya. Mereka menggalang kekuatan massa rakyat dan turun ke jalan untuk menggulingkan kekuasaan diktator Fedinand Marcos. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Aksi perlawanan dengan semangat (satyagraha) serupa pun pernah berlangsuang di negara kita. Pada tahun 1997, ribuan mahasiswa turun ke jalan, berorasi, tanpa senjata berhadapan dengan barisan tentara yang menghadang mereka, demi tuntutan refomasi. Dan, justru dalam aksi yang “tanpa kekerasan” semacam ini perubahan sejarah Indonesia bergulir.

Ketiga, jauh sebelum teologi pembebasan banyak diserukan dewasa ini, Gandhi telah memulainya lebih dahulu. Sikapnya terhadap kaum Harijan menunjukkan perhatiannya yang luar biasa terhadap orang yang lemah dan disingkirkan oleh banyak pihak.  Tak hanya itu, ia juga mengusahakan tempat yang layak bagi mereka di tengah masyarakat yang memegang sistem kasta yang kaku. Bentuk-bentuk keterlibatan semacam itu patut kita tiru, mengingat ada sekian juta orang di negeri ini yang berada dalam status pinggiran, marginal, disingkirkan atau tak berdaya, baik secara ekonomi, politik, atau hukum. Kehadiran para pejuang kemanusiaan, seperti orang-orang yang tergabung dalam LSM-LSM terkait,  patut kita acungi dua jempol karena mereka sungguh-sungguh terlibat dalam aktivitas pendampingan dan pengentasan orang-orang yang lemah dan tak berdaya di negeri ini.

Lebih jauh, secara amat menarik, Gandhi berpendapat bahwa filsafat akan mati jika ia hanya sebatas diajarkan dalam ruangan akademis. “Semua filsafat akan menjadi kering jika tidak secara langsung diterjemahkan ke dalam tindakan untuk pelayanan hidup,” katanya. Hal ini tentunya menantang kita untuk tidak bertopang dagu melihat “carut-marut” situasi kemasyarakatan negara kita belakangan ini. Berfilsafat berarti tidak mengurung diri dalam pemikiran abstrak-idealis. Berfilsafat berarti juga berpikir konkret-konktekstual untuk menjawabi masalah-masalah yang terjadi di sekitar kita.

Daftar Pustaka

Sumber utama:

Collinson, Diane-Robert Wilkinson. Thirty-Five Oriental Philosophers. London: Routledge, 1994.

Sumber pendukung:

Alappatt, Francis. Mahatma Gandhi: Prinsip Hidup, Pemikiran Politik dan Konsep Ekonomi. Bandung: Nusamedia, 2005.

Dear, John. Intisari Ajaran Mahatma Gandhi. Bandung: Nusamedia, 2007.


[1] Paham ini merupakan gabungan antara pemujaan dewa Wisnu dengan unsur-unsur dari Jainisme. Jainisme itu sendiri adalah aliran agama di India yang salah satu ajarannya adalah melarang keras praktek kekerasan dan pembunuhan terhadap segala jenis makhluk hidup sendiri (bdk, Francis Alappatt, Mahatma Gandhi: Prinsip Hidup, Pemikiran Politik dan Konsep Ekonomi, Bandung: Nusamedia, 2005, hlm. 3)

2 Pernikahan tersebut sesuai dengan tradisi lokal tempat Gandhi dibesarkan. Istrinya bernama Kasturbai Makanji, seorang putri dari saudagar Porbandar. Ia berumur sepantaran dengan Gandhi. Mereka telah dijodohkan sejak berumur 7 tahun (Bdk, Ibid, hlm. 4).

3 Ibid, hlm. 6.

4 Misalnya: pemisahan tempat-tempat publik antara kulit putih dengan kulit berwarna, ketetapan pemerintah bahwa orang-orang India tidak lagi memiliki hak pilih, UU yang mengaharuskan setiap orang India untuk melakukan registrasi ke pemerintah, dan keputusan pemerintah bahwa pernikahan yang diakui keabsahannya secara hukum hanyalah pernikahan menurut agama Kristen (Bdk. John Dear, Intisari Ajaran Mahatma Gandhi, Bandung: Nusamedia, 2007, hlm. 14-19).

[2] Gandhi memutuskan untuk pindah dan menetap di sebuah rumah milik orang Muslim yang sangat miskin, di daerah kalkuta. Di wilayah inilah terjadi kerusuhan yang paling buruk. Atas pertimbangan tersebut, Gandhi menyatakan akan berpuasa tanpa berbuka – meski harus menyonsong maut – sampai kekerasan benar-benar terhenti. Dalam jangka waktu 73 jam, orang-orang Muslim dan Hindu tidak hanya menghentikan kekerasan yang mereka lakukan, tetapi mereka juga segera menyusun barisan dan berdoa bersama-sama (Bdk, Ibid, hlm. 39).

[3] Ibid, hlm. 138.

[4] Francis Alappatt, Op. Cit, hlm. 61.

[5] John Dear, Op. Cit, hlm. 34.

[6] Kehidupan di ashram adalah kehidupan komunal. Mereka membuat sendiri baju yang mereka kenakan, menanam sendiri makanan yang mereka makan, mendirikan dan menyelenggarakan sekolah sendiri, menerbitkan surat kabar sendiri, mengumpulkan dana untuk orang-orang termiskin dari yang miskin, dan berbagi bersama untuk semuanya (bdk, Ibid, hlm. 35).

[7] Ibid, hlm. 141.

[8] Bdk, Francis Allappatt, Op. Cit, hlm. 54.

[9] Bdk, Ibid, hlm. 126.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s