ASAL-USUL SOSIOLOGI (SEBUAH LUKISAN PANORAMIK)


1. Pengantar

Hidup manusia tak bisa lepas dari sejarah. “Ada”nya manusia saat ini merupakan hasil dari bentukan sejarah. Sejarah memungkinkan manusia untuk  mengenal jatidiri dirinya dan/atau untuk memperkenalkan eksistensi hidupnya kepada orang-orang di sekitarnya. Begitupun halnya dengan ilmu sosiologi, pengetahuan-pengetahuan esensial mengenai sosiologi sangat terikat dengan suatu proses sejarah. Banyak ahli sosiologi mengakui bahwa masyarakat tidak lahir dari ide-ide semata ataupun dari sesuatu yang jatuh dari langit. Seluruh model-model dasar dari interaksi manusia, institusi-institusi sosial, model-model organisasi, komunikasi, dsb, adalah bentukan sejarah.1

Dalam paper ini, penulis akan membahas apa itu sosiologi, bagaimana proses sejarah terbentuknya ilmu sosiologi, hal-hal apa saja yang melatarbelakangi, siapa saja tokoh yang membidani lahirnya ilmu sosiologi, serta bagaimana perkembangan sosiologi selanjutnya. Dan, sebagai sebuah panorama paper ini tidak akan menjelaskan bagian per bagian dari ilmu sosiologi secara mendetail, tapi hanya menjelaskan poin-poin yang kiranya memberikan gambaran besar tentang jalannya sejarah/asal-usul sosiologi.

2. Apa itu sosiologi?

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur-struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk di dalamnya perubahan-perubahan sosial. Dalam pengertian ini, objek studi sosiologi mencakup unsur-unsur sosial yang pokok, yakni norma-norma atau kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial.2 Sehingga, dapat pula dikatakan bahwa lapangan kerja sosiologi merambah setiap aspek dari kehidupan sosial manusia. Sosiologi meneliti dan merekam bagaimana hubungan seseorang dengan orang yang lain dan dengan lingkungan tempat ia hidup.3

Dalam pengertian yang lebih sederhana, sosiologi adalah ilmu tentang societas.4Pengertian societas disini lebih mengandaikan hubungan kualitas daripada sekadar hubungan kuantitas. Sehingga, kita dapat mengatakan bahwa kerumunan orang yang terlihat di pasar-pasar atau di jalanan yang macet, misalnya, seberapapun besarnya, tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah societas. Societas merupakan sistem hidup bersama yang memiliki struktur dan relasi yang saling berinteraksi. Oleh karena itu, societas dapat dimaknai sebagai organ yang hidup, yang senantiasa berubah dan berkembang menjadi societas yang lebih maju.

3. Babak Permulaan

Jauh sebelum Auguste Comte “melahirkan” ilmu sosiologi, pemikiran-pemikiran tentang masyarakat (dan negara) telah banyak dibicarakan, mulai dari periode Yunani kuno, abad pertengahan, sampai renaisance. Ide tentang masyarakat tersebut tertuang dalam ruang-ruang  pemikiran filosofis yang berkembang pada jamannya. Sebagai pemikiran filosofis, maka pembicaran tentang masyarakat (dan negara) tak jauh dari ide-ide spekulatif dan proses pemikiran deduktif.

3.1 Filsafat Yunani Kuno. Plato dan Aristoteles

Pemikiran Plato (429-347) tentang masyarakat terekam dalam karyanya yang berjudul, PoliteaPolitea secara khusus berbicara tentang konsep negara yang ideal. Menurut Plato, seorang manusia tidak bisa hidup sendirian. Mereka mempunyai banyak kebutuhan yang hanya bisa terpenuhi lewat kerjasama (pertukaran barang dan jasa) dengan orang lain. Oleh karana itu, diperlukan suatu pembagian kerja.5 Menurut Plato, negara yang ideal terdiri dari tiga golongan, yakni: golongan filsuf, prajurit, dan petani. Ketinganya, mempunyai keutamaan masing-masing, tapi  keutamaan keadilan terdapat pada semua golongan.6

Aristoteles (384-322), dalam bukunya yang berjudul Politica, mengatakan bahwa nilai-nilai susila dari manusia sebagai makhluk masyarakat hanya dapat diwujudkan dalam pergaulan hidup,yaitu dalam negara.7 Sebab, menurut kodratnya, manusia merupakan zoion politikon: makhluk yang hidup dalam polis.8

3.2. Abad Pertengahan

Pada abad pertengahan, pandangan tentang manusia (dan masyarakat) terelativisir oleh ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin Gereja. Salah satu tokoh yang mewakili periode ini adalah St. Thomas Aquinas (1225-1274). Menurutnya, manusia, sebagai suatu masyarakat, pada dasarnya ditetapkan untuk hidup dalam lingkungan negara. Tujuan dari negara adalah untuk mewujudkan keadilan. Namun, kewajiban negara hanya terbatas pada alam duniawi semata. Sedangkan, gereja merupakan persekutuan hidup yang sesungguhnya dan yang meliputi segala-galanya.9

3.3 Renaisance

Periode Renaisance merupakan periode yang sangat “menggiurkan” bagi penghargaan hidup manusia.  Dalam periode ini, manusia memiliki kesadaran-kesadaran baru untuk mengedepankan nilai dan keluhuran hidupnya. Maka, tak salah bila arus budaya pada periode ini lebih banyak menampilkan sisi humanis manusia. Manusia dilihat sebagai pribadi yang utuh, lepas dari belenggu agama. Begitupun halnya dengan politik. Politik pada periode ini tidak lagi dikaitkan dengan agama. Tokoh yang merepresentasi hal ini adalah Machiavelli.[1] Machiavelli merupakan seorang realis yang menganjurkan politik kekuasaan yang praktis, dengan tidak memakai dasar-dasar kesusilaan atau alam metafisika. Dia mewakili suatu paham baru, yakni: paham kebangsaan dan paham pemisahan gereja dan negara.[2] Juga, selama renaisance kelas-kelas sosial di dalam masyarakat menjadi tidak penting lagi artinya. Orang-orang mulai menaruh penghargaan pada pribadi. Kualitas hidup seseorang tidak lagi ditentukan berdasarkan kelahiran, melainkan keahlian.[3]

4. Latar Belakang Situasi Sosial di Eropa (18-19M)

Kemunculan ilmu sosiologi tak lepas dari situasi-situasi sosial yang berkembang di dalam masyarakat Eropa, khususnya. Dalam kurun waktu antara abad 18 dan 19, tercatat ada beberapa gejolak-gejolak sosial yang terjadi di daratan Eropa, diantaranya: revolusi perancis dan revolusi industri (Inggris). Revolusi-revolusi tersebut menyebabkan perubahan-perubahan fundamental dalam semua tatanan kehidupan masyarakat, yang pada akhirnya menimbulkan sebuah “revolusi baru,” yakni revolusi sosial.[4] Kondisi inilah yang nantinya menggugah kesadaran para ilmuwan saat itu untuk menganalisa dan/atau mencari penjelasan rasional mengenai perubahan dalam masyarakat.

4.1 Revolusi Industri

Revolusi industri merupakan ungkapan yang pertama kali digunakan untuk menamai perubahan dan perkembangan pesat yang terjadi di Inggris, ketika secara meluas mesin uap dimanfaatkan pada berbagai idustri, terutama industri tekstil, dalam kurun waktu 1700-1850.[5] Penemuan mesin uap membangkitkan gairah yang besar bagi perkembangan industri di daratan Eropa. Sebab, penemuan mesin uap memungkinkan pengadaan produk-produk industri dilakukan dengan relatif lebih cepat dan besar-besaran. Selain itu, revolusi industri juga memungkinkan ditemukannya mesin-mesin industri yang baru, dibangunnya pabrik-pabrik, dan desakan yang besar untuk mencari bahan baku serta kebutuhan untuk memasarkan produk-produk industri.

Revolusi industri mengubah cara hidup banyak manusia, terutama yang hidup di kota, pinggir kota, dan daerah yang terikat dengan industri. Mereka bekerja dengan kecepatan dari peralatan lain dan dengan organisasi lain. banyak macam barang dan jasa yang tersedia bagi orang lain. Namun, peningkatan kesejahteraan ini tidak merata sehingga kesenjangan sosial menjadi parah.[6]

4.2 Revolusi Perancis

Revolusi ini terjadi pada akhir abad 18 dan awal abad 19, tepatnya antara tahun 1789-1799. Revolusi ini ditandai dengan penyerangan penjara Bastile (lambang kekuasaan monarki absolut Perancis)  oleh rakyat Perancis. Latar belakang timbulnya revolusi perancis merupakan perpaduan antara kondisi di Perancis[7] dengan gagasan revoluisoner mengenai kemanusiaan serta keadilan yan disebarluaskan oleh para intelektual Perancis sendiri, seperti: Voltaire, Montesquie, dan Rousseau.[8]

Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang menggunakan sistem feodal runtuh. Bangsawan dan kaum Rohaniwan yang semula bergelimang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata, kekuasaan raja dibatasi oleh undang-undang, dan banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa jatuh dan terpecah.[9] Dengan kata lain, pergolakan revolusi Perancis ini pada akhirnya melahirkan tata sosial yang baru di daratan Eropa.

5. Tokoh-tokoh Dibalik Kemunculan Ilmu Sosiologi

Seperti yang telah ditulis diatas, sebelumnya, pemikiran-pemikiran tentang masyarakat dibicarakan dalam konteks filosofis, sehingga tak lepas dari ide-ide spekulatif dan proses pemikiran deduktif. Pada awal abad 19, pemikiran tentang masyarakat beralih dengan menggunkan penelitian dan pengumpulan data. Ilmu pengetahuan baru ini lantas dinamakan sosiologi, yang menggunakan metode-metode dan data-data empiris untuk mempelajari societas atau masyarakat.[10] Nah, perkembangan ini tentunya tak lepas dari para tokoh  seperti, Saint Simon, Comte, Emile Durkheim, dsb. Ketiga tokoh tersebut sengaja penulis bahas di paper ini, mengingat peran sentral mereka dalam membidani lahirnya (disiplin) ilmu sosiologi.

5.1 Saint Simon. Studi Positif  Mengenai Masyarakat

Saint Simon (1765-1888) merupakan seorang tokoh penghubung abad ke-18 dengan abad ke-19. Ia merupakan seorang pengkritik sosial yang tajam. Ia setuju dengan revolusi Perancis, yang menghancurkan kekuasaan raja dan kelompoknya, termasuk juga geraja. Dalam studinya mengenai masyarakat, ia tidak puas dengan hanya melakukan pengamatan-pengamatan konvensional yang selama ini dipakai untuk mencermati masyarakat, yaitu dengan pendekatan filosofis (spekulatif dan deduktif). Oleh karena itu, ia mengambil studi positif tentang masyarakat, yakni dengan menggunakan angka atau hitungan.

Hal tersebut ia tegaskan dalam bukunya yang berjudul Memoirs sur la Sciencie de l’Homme. Saint Simon menyatakan bahwa ilmu politik merupakan suatu ilmu yang positif. Artinya, masalah-masalah dalam ilmu positif hendaknya dianalisa dengan metode-metode yang lazim dipakai terhadap gejala-gejala lain atau ilmu-ilmu lain, seperti, biologi, fisika dan/atau matematika.[11] Dikemudian hari, metode yang digunakan Saint Simon ini berpengaruh pada cara kerja Auguste Comte (sosiolog Perancis) dan John Staurt Mill (sosiolog/filosof Inggris), dalam menganalis masyarakat.

5.2 Auguste Comte. “Lahirnya” Sosiologi

Auguste Comte (1760-1825) biasanya dipandang sebagai pendiri ilmu sosiologi (dan yang pertama kali mencetuskan istilah sosiologi). Ia menjalankan studi sosialnya dengan cara yang sama seperti “hard science,” yakni dengan menggunakan data, verifikasi, dan hipotesis. Comte menggunakan istilah sosiologi dalam buku pertamanya yang berjudul The Course of Positive Philosophy.[12] Sewaktu menulis buku ini, Comte bermaksud menjelaskan pandangannya yang menyatakan bahwa sifat dasar organisasi sosial suatu masyarakat sangat tergantung pada pola pikir yang dominan serta tingkat  pengetahuan masyarakat itu. Semakin tumbuh pola pikir dan pengetahuannya, semakin bertambah kemampuan masyarakat untuk maju.[13]

Oleh karena itu, Comte membagi ilmu pengetahuan sepanjang sejarah dalam tiga tahap:

a. Tahap teologis         : menggunakan penjelasan animisme, roh-roh dan dewa-dewi.

b. Tahap metafisik       : menggunakan penjelasan spekulasi.

c. Tahap positif           : menggunakan penjelasan ilmiah berdasarkan pengamatan                                         empirik, percobaan, perbandingan.

Menurut dia, manusia pertama-tama membebaskan diri dari pemikiran teologis dan metafisis dengan menggunakan matematika dan astronomi. Baru kemudian berangsur-angsur manusia menetapkan pengetahuan positif untuk objek-objek yang mendekati dirinya (alam fisik dan kimia), lalu binatang-binatang dan dirinya (biologi) dan akhirnya masyarakatnya (sosiologi).[14]

5.3 Emile Durkheim. Sosiologi sebagai Disiplin Ilmu

Jasa Emile Durkheim(1858-1917) bagi perkembangan ilmu sosiologi sangat besar artinya. Durkheim berhasil merumuskan dengan lebih jelas disiplin ilmu sosiologi, yang mencakup teori-teori dan metode-metode penelitian empirisnya. Dengan demikian, sosiologi mulai berkembang sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan diakui secara sah oleh dunia akademis, sejajar dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain seperti: psikologi, filsafat, dsb.

Asumsi umum yang paling mendasar dalam pendekatan Durkheim terhadap sosiologi adalah bahwa gejala sosial itu riil dan mempunyai pengaruh pada kesadaran individu, dan perilakunya berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atau karakteristik individu lainnya. Selanjutnya, Durkheim menegaskan bahwa gejala sosial itu dapat dipelajari sebagai hal yang riil dengan metode-metode empirik. Baginya, fakta sosial itu tidak dapat diciutkan ke fakta individu; fakta itu memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial.[15]

6. Perkembangan  Ilmu Sosiologi

Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika. Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas,dll. Konsekuensi gejolak sosial itu ialah tak terelakkanya perubahan besar dalam masyarakat. Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi.

Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern. Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro. Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian dalam sosiologi.[16]

7. Kesimpulan

Sekali lagi, ilmu sosiologi bukanlah ilmu yang jatuh dari langit. Terbentuknya ilmu sosiologi tidak bisa kita lepaskan dari proses sejarah yang menyertainya. Lewat bentukan sejarah, yang cukup lama, itulah kita bisa menikmati kajian-kajian ilmu sosiologi seperti sekarang ini. Meski demikian, ilmu sosiologi bukanlah ilmu yang statis, melainkan dinamis. Sebab, selalu ada kemungkinan untuk bertumbuh dan berubah.

Daftar Pustaka

Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius,1999.

Budianto, Antonius Sad, MA. Pengantar Sosiologi. Malang: STFT Widya Sasana, 1997.

Cahyono, Tatang. “Sosiologi,”  Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 15, hlm. 199.  Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1991.

De Haan, J. Bierens. Sosiologi. Jakarta: PT Pembangunan, 1962

Endang, “Revolusi Industri,” Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 14, hlm. 197.   Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1991.

Helton, Tinley. “the Spirit of Renaisance,”  The World Book of Encyclopedia, hlm.  223. USA: World Book. Inc, 1984

http://idwikipedia.org/wiki/sosiologi, diakses tgl. 25 Januari 2007.

Kilzer, E. and E.J. Ross. Western Social Thought. USA: The Bruce Publishing Company, 1954.

Purwoto, Dwi. “Revolusi Perancis,” Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 14, hlm.  29. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1991.

Richardson, R. Jack and Lorne Tepperman (eds). An Introduction to The Social World. T.t: t.p, 1987.

Riyanto, Armada, Dr. Pengantar Filsafat. Malang: STFT Widya Sasana, 2001.

Smelson, Neil J. “Sociology,” The World Book Encylopedia, Vol 18, hlm. 458b. USA: World Book. Inc, 1984.

Soekanto, Soerjono. SOSIOLOGI Suatu Pengantar. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1977.


1An Introduction to The Social World,  R. Jack Richardson & Lorne Tepperman (eds), (T.p:t.p, 1987), hlm. 9.

2 Tatang Cahyono, “Sosiologi,”  Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1991), Jilid 15, hlm. 199.

3 Neil J. Smelson, “Sociology,” The World Book Encylopedia, ( USA: World Book. Inc, 198),  Volume 18, hlm.  458b.

4 Bdk, Catatan Kuliah Pengantar Sosiologi, tgl. 30 Januari 2007.

5 Bdk, E. Kilzer and E.J. Ross, Western Social Thought,(USA: The Bruce Publishing Company, 1954),  hlm. 21.

6 K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta: Kanisius,1999), hlm.145.

7 J. Bierens de Haan, Sosiologi, (Jakarta: PT Pembangunan, 1962), hlm. 15.

8 K. Beretns, Op. Cit., hlm. 200.

9 J. Bierens de Haan, Op. Cit., hlm. 16.

[1] Bdk, Armada Riyanto, Pengantar Filsafat, (Malang: STFT Widya Sasana, 2001), hlm. 11. (diktat).

[2] J. Bierens de Haan, Op. Cit., hlm. 19.

[3]Tinley Helton, “the Spirit of Renaisance,”  The World Book of Encyclopedia, (USA: World Book. Inc, 1984), hlm. 223.

[4] Revolusi sosial merupakan dampak yang tak terelakkan dari revolusi-revolusi yang terjadi di Eropa, khusunya revolusi industri. Perubahan secara besar-besaran terjadi dalam  tata sosial atau tata hidup masyarakat. Diantaranya, terciptanya pasar, terbentuknya kelas-kelas sosial (pemilik modal dan pekerja), relasi dan interaksi yang diwarnai ketidakadilan, ketergantungan pada sistem produksi, nilai-nilai kehidupan dan rasionalitas baru, dan tentunya struktur masyarakat yang baru. (Bdk, Catatan Kuliah Pengantar Sosiologi, tgl. 06 Februari, 2007).

[5] Endang, “Revolusi Industri,” Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1991), Jilid 14, hlm. 197.

[6] Ibid, hlm. 198.

[7] Pemerintahan yang buruk, kesenjangan dan kecemburuan sosial akibat sistem feodal. Rakyat diperlakukan dengan tidak adil. Mereka dibedakan dari golongan bangsawan dan rohaniwan yang banyak menikmati hak istimewa.

[8] Dwi Purwoto, “Revolusi Perancis,” Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1991), Jilid, 14, hlm. 29.

[9] http://id.wikipedia.org/wiki/sosiologi, diakses tgl. 25 Januari 2007.

[10] Bdk, E. Kilzer and E.J. Ross, Op. Cit., hlm. 318.

[11] Bdk, Soerjono Soekanto, SOSIOLOGI Suatu Pengantar, (Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1977), hlm. 43.

[12] Secara khusus, Comte menamai ilmu sosial sebagai sosiologi dalam  buku ke-VI, bab 3. Dan, menyatakan metodenya dengan,  observasi, eksperimen, dan perbandingan sejarah. (Bdk, E. Kilzer and E.J. Ross, Op. Cit., hlm. 323).

[13] Tatang Cahyono, Loc. Cit.

[14] Antonius Sad Budianto, Pengantar Sosiologi, (Malang: STFT Widya Sasana, 1997), hlm. 6. (Diktat).

[15] Tatang Cahyono, Loc. Cit.

[16] http://idwikipedia.org/wiki/sosiologi, diakses tgl. 25 Januari 2007.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s