ABORSI TERAPEUTIK (TINJAUAN MORAL MENURUT PRINSIP-PRINSIP KESUSILAAN PERBUATAN DAN PRINSIP AKIBAT GANDA)


1. Pengantar

Aborsi, dalam moral Katolik, dipandang sebagai suatu kejahatan. Bahkan, Konsili Vatikan II, sebagaimana yang disitir dalam Ensiklik Evangelium Vitae, melukiskan aborsi sebagai suatu ‘tindakan kejahatan yang durhaka.’ Oleh karena itu, tindakan aborsi mutlak dilarang. Dosa moral yang berat lantas dikenakan pada orang-orang yang dengan sadar melakukan aborsi. Namun, dalam prakteknya, persoalan aborsi sangatlah sulit untuk dilihat dalam kacamata penilaian hitam-putih atau benar-salah. Kompleksitas permasalahan, seperti yang terjadi dalam indikasi eugenis,[1] kriminologis,[2] sosial,[3] dan medis/terapeutik,[4] layak dipertimbangkan sebelum tindakan aborsi benar-benar dijatuhi penilaian moral yang rigid.

Oleh karena itu, dalam paper ini, penulis hendak mengetengahkan kompleksitas permasalahan yang terjadi di dalam tindakan aborsi, khususnya dalam indikasi aborsi terapeutik. Mengapa aborsi terapeutik? Karena kasus aborsi jenis ini (pernah) menjadi perdebatan yang hangat diantara para moralis Katolik. Selain itu, kompleksitas permasalahan yang melatarbelakangi tindakan aborsi dalam kasus ini juga sangat terasa. Untuk mendekati dan ‘membedah’ kompleksitas permasalahan tersebut, penulis akan menggunakan prinsip-prinsip kesusilaan perbuatan dan juga prinsip akibat ganda.

2. Permasalahan

Aborsi sejatinya adalah pemusnahan makhluk manusia yang belum mampu hidup dari kandungan ibu melalui campur tangan manusia, entah dengan membunuhnya sebelum dikeluarkan darikandungan, atau membiarkannya mati terlantas di luar kandungan.[5] Jadi, meski masih belum berwujud manusia sempurna, tindakan aborsi terhadap janin/orok dalam kandungan tetap akan dipandang sebagai suatu pembunuhan, dan tindakan ini jelas bersalah baik secara moral subjektif (hati nurani) maupun secara moral objektif (hukum). Namun, seperti yang telah disebut diatas, tindakan aborsi, terlebih indikasi aborsi terapeutik, memiliki kompleksitas permasalahan yang tidak kalah seriusnya dengan keputusan penilaian moral terhadapnya. Ada dua nyawa yang dipertaruhkan dalam aborsi terapeutik, yakni atau nyawa ibu atau nyawa si jabang bayi. Contoh kasus konkret yang hendak digunakan untuk mengurai kompleksitas permasalahan dan penilaian moral yang menyusul atas tindakan aborsi terapeutik adalah kasus kehamilan di saluran fallopi.[6]

Katakanlah, ada seorang wanita muda, berusia 25 tahun, bernama Nurlela. Sudah 30 hari ini, semenjak pernikahannya dengan Soedjatmika dua tahun lalu, ia mengandung jabang bayi pertamanya. Namun, setelah beberapa kali kontrol ke dokter kandungan, betapa terkejutnya Nurlela tatkala mengetahui bahwa posisi janinnya tidak pada tempat yang semestinya (di dalam rahim). Menurut dokter yang memeriksanya, janin Nurlela ‘tumbuh’ di saluran fallopi.[7]

Si dokter tadi menyarankan Nurlela untuk mengeluarkan fetus atau janinnya sebelum saluran fallopiinya pecah. Tujuannya baik, yakni menyelamatkan Nurlela tanpa harus menghilangkan potensi untuk hamil lagi. Selain itu, sebenarnya janin itu sendiri tidak memiliki peluang untuk hidup, pasti akan mati, dan jika kehamilan itu tetap dibiarkan maka hidup Nurlela itu sendiri yang malah akan terancam mati. Setelah berbincang dengan suaminya, dan mempertimbangkan setiap kemungkinan yang terjadi, maka Nurlela pun setuju untuk melakukan aborsi.

3. Prinsip-Prinsip Kesusilaan Perbuatan

Tinjauan pertama yang mesti diketengahkan untuk menilai kasus aborsi terapeutik diatas adalah prinsip-prinsip kesusilaan perbuatan. Prinsip ini menyangkut penilaian atas keseluruhan objek, keadaan, dan tujuan yang terjadi di sekitar tindakan aborsi terapeutik yang dilakukan oleh Nurlela. Sebagai tambahan, menurut St. Thomas, sebagaimana yang disitir oleh Dr. Yustinus, tiga aspek dalam perbuatan konkrit (objek, keadaan, dan tujuan) hanya dapat dibedakan, tetapi ketiganya tidak dapat dipisahkan. Oeh karena itu, ia berpendapat bahwa dalam menilai moralitas perbuatan kita harus memandang penting ketiga-tiganya secara bersamaan.

  1. a. Objek

Objek (finis operis) adalah akibat yang dihasilkan secara langsung oleh suatu perbuatan.[8] Dengan kata lain, objek perbuatan selalu merupakan hasil atau buah perbuatan seseorang. Dalam penilaian moral, objek selalu menjadi rujukan pertama dan juga tolak ukur utama untuk menimbang kadar moralitas suatu perbuatan.[9] Penilaian moral terhadap suatu objek perbuatan biasanya terlepas dari segala bentuk situasi dan maksud yang ikut menyertai suatu perbuatan. Dengan demikian, penilaian moral terhadap objek perbuatan, sekali lagi, selalu diletakkan pada buah, hasil, atau akibat  konkret yang ditimbulkannya.

Objek Perbuatan Pelaku

Objek perbuatan yang terjadi dalam kasus diatas  adalah  pengeluaran janin yang masih berumur 30 hari dari dalam rahim Nurlela. Meski belum memiliki wujud manusia janin tersebut memiliki potensialitas untuk menjadi manusia. Sehingga, objek perbuatan Nurlela dapat dipandang sebagai suatu tindakan pembunuhan.

  1. b. Keadaan

Keadaan adalah konteks perbuatan manusia. Dengan demikian, suatu perbuatan tidak lagi dinilai berdasar objeknya, tapi juga mempertimbangkan aspek-aspek konkrit situasional yang menyertai perbuatan tersebut. Aspek-aspek tersebut biasanya dirumuskan dengan pertanyan : siapa yang melakukan, bagaimana caranya, perbuatan apa yang dilakukan, mengapa perbuatan tersebut dilakukan, dimana dilakukan, dengan apa dilakukan, dan kapan dilakukan. Aspek-aspek keadaan tersebut dapat mengubah penilaian moral perbuatan manusia menjadi baik atau buruk, khususnya dengan cara berikut:[10]

Pertama,  dalam arti positif, keadaan dapat membuat suatu perbuatan yang dari objeknya memang baik menjadi lebih baik (misalnya, persembahan seorang janda miskin, dalam Kitab Suci, dianggap oleh Yesus sebagai suatu tindakan cinta yang lebih bernilai besar dibanding persembahan orang kaya yang ada di situ). Keadaan juga dapat mengurangi hukuman penilaian moral kejahatan dari suatu perbuatan yang nyata-nyata menghasilkan objek yang buruk (pembunuhan yang dilakukan demi membela diri, misalnya, memiliki penilaian moral yang lebih ringan daripada pembunuhan yang disengaja).

Kedua,  dalam arti negatif, keadaan dapat menjadikan suatu perbuatan yang dari objeknya nyata buruk menjadi lebih buruk lagi (misalnya, penjarahan dinilai lebih buruk dibanding perilaku klepto). Selain itu, keadaan dapat mengubah perbuatan yang dari objeknya netral menjadi buruk (misalnya, bertamu ke rumah orang lain dapat menimbulkan kejengkelan bila dilakukan pada tengah malam, sehingga menganggu tidur orang lain). Keadaan juga dapat membuat suatu perbuatan yang dari objeknya memang baik menjadi kurang baik/buruk (menyumbang untuk pembangunan gereja, misalnya, secara objek baik, namun bila uang sumbangan itu diperoleh dengan pencurian, maka perbuatan tersebut menjadi buruk).

Keadaan Perbuatan Pelaku

Tindakan aborsi yang dilakukan oleh Nurlela sejatinya diwarnai oleh konteks permasalahan yang amat pelik. Kehamilannya bisa mengancam jiwanya, lantaran posisi janin tidak berada di kantong rahim, tapi di saluran fallopi. Jika kondisi semacam itu dibiarkan, maka saluran fallopinya akan pecah. Hanya ada dua kemungkinan bila Nurlela ingin selamat. Pilihan pertama, kandungannya harus diangkat. Dengan demikian, tidak akan terjadi aborsi langsung. Tetapi, permasalahannya, jika kandungannya  diangkat, di kemudian hari ia tidak memiliki potensi untuk melahirkan lagi. Sebuah keputusan yang sulit, mengingat dia dan suaminya tidak punya anak sebelumnya. Usia pernikahannya pun masih amat muda. Bisa dibayangkan, di usia pernikahan yang amat muda, keluarga ini harus mengubur dalam-dalam impin membina hidup keluarga bahagia dimana tawa dan canda anak-anak selalu terdengar setiap hari, jika keputusan untuk mengangkat kandungan diambil.

Sementara itu, pilihan kedua adalah pengguguran kandungan. Pilihan pengguguran kandungan disini terasa ‘agak melegakan.’ Sebab, impian-impian tentang keluarga bahagia bisa dirajut ulang di kemudian hari, jika kandungan selamat dan Nurlela pun juga ikut selamat, tapi konsekuensinya jelas, janin yang ada dalam rahim Nurlela harus digugurkan sekarang juga. Patut diingat pula bahwa bagaimana pun, cepat atau lambat, janin yang ada dalam kandungan Nurlela pasti akan mati, tidak akan selamat. Oleh karena itu, ‘sebenarnya’ tidak ada bedanya bagi janin tersebut untuk mati sekarang atau mati di kemudian hari. Sebuah kompleksitas permasalahan tentang hidup dan impian dihadapi oleh Nurlela. Namun, pada akhirnya keputusan jatuh pada pilihan kedua. Pilihan yang memberi kemungkinan kehidupan baru bagi Ibu (Nurlela).

  1. c. Tujuan

Tujuan (finis operantis) adalah alasan yang mendorong dilakukannya suatu perbuatan.[11] Tujuan dapat pula dimengerti sebagai akibat atau hasil perbuatan konkret, yang diharapkan secara subjektif oleh para pelaku perbuatan. Lebih jauh, sebagaimana dengan keadaan, tujuan mampu mengubah moralitas suatu perbuatan. Tujuan yang baik dapat membuat suatu perbuatan yang dari objeknya baik menjadi lebih baik, perbuatan netral menjadi baik, dan perbuatan buruk menjadi kurang buruk.[12] Dan begitu sebaliknya. Oleh karena itu, dalam menilai suatu perbuatan, tujuan memainkan peranan yang penting.

Tujuan Perbuatan Pelaku

Dalam kasus diatas, aborsi yang dilakukan oleh Nurlela sejatinya bertujuan baik, yakni memelihara dan mempertahankan kehidupan (dan ‘impian’) Nurlela yang bisa jadi nilainya lebih tinggi ‘daripada’ janin yang secara definitif, cepat atau lambat bakal mati. Dengan kata lain, tujuan yang hendak dicapai lewat praktek aborsi disini adalah menyelamatkan kehidupan (dan ‘impian’) Nurlela sekiranya itu bisa dilakukan.

4. Prinsip Akibat Ganda

Prinsip akibat ganda sejatinya digunakan untuk menilai perbuatan dalam konteks minus malum. Artinya, objek suatu perbuatan diambil setelah melihat bahwa tidak ada pilihan keputusan yang lebih baik dari yang lain, sebab semua pilhan keputusan yang ada selalu membawa hasil buruk. Meski demikian, di tengah keburukan hasil yang mesti diterima, ada satu pilihan yang menyisahkan hasil baik. Namun, sayangnya, hasil baik tersebut pada akhirnya harus bersandingan dengan hasil buruk.

Dalam ajaran tradisional moral Katolik, khususnya lewat gagasan Thomas Aquinas tentang praeter intentionem (di luar maksud) perbuatan, disebutkan empat syarat[13] supaya perbuatan yang diambil berdasar prinsip akibat ganda dapat dibenarkan dan dinilai mengandung alasan-alasan yang proporsional: Pertama, perbuatan itu sendiri harus baik, tidak boleh bersifat buruk dari dalam dirnya. Kedua, maksud perbuatan itu haruslah baik. Artinya, akibat buruk/jahat yang ditimbulkan oleh suatu perbuatan sesungguhnya tidak menjadi maksud utama si pelaku perbuatan (di luar maksud). Ketiga, akibat jahat dan baik paling tidak harus sama-sama langsung merupakan hasil tindakan, atau kalau tidak, akibat langsung harus baik, tidak boleh jahat. Keempat, alasan munculnya kejahatan haruslah proporsional (berat).

Tinjauan dalam kasus

Memang agak sulit melihat tindakan aborsi dalam kasus ini dengan memakai kacamata penilaian benar-salah. Tapi, melalui prinsip akibat ganda, kita akan memahami tindakan aborsi tersebut dalam konteks keseluruhan dan konsekuensi-konsekuensi yang menyertainya. Oleh karena itu, barnagkali kita akan lantas  ‘memaklumi’ tindakan aborsi dalam kasus yang dilakukan oelh Nurlela sebagai tindakan yang mengandung alasan proporsional. Mengapa?

Alasan pertama, tindakan aborsi tersebut tidak asal diambil. Pengambilan keputusan untuk aborsi dilakukan setelah mendengarkan informasi yang memadai dari ahli medis (dokter). Melalui kacamata keilmuan mereka, pilhan terbaik dari antara sekian pilihan buruk yang menyertai kasus kehamilan Nurlela adalah melakukan aborsi untuk menyelamatkan nyawa si ibu dibanding mempertahankan janin yang nyata-nyata tidak bisa diharapkan kelanjutan hidupnya.

Alasan kedua, tujuan/intensi perbuatan dalam kasus aborsi diatas adalah jujur, yakni demi menyelamatkan nyawa si Ibu (Nurlela) yang memiliki harapan hidup lebih tinggi daripada janin yang ada dikandungannya. Jadi, meskipun nyata dipahami bahwa akibat/hasil perbuatan aborsi dalam kasus di atas adalah kematian janin, tetapi kematian tersebut sesungguhnya tidak diharapkan dalam tujuan yang menyertai keputusan Nurlela untuk menggurkan janinnya.

5. Penutup

“Hidup manusia adalah nilai paling fundamental, namun bukan nilai yang paling tinggi,” demikian penyataan dalam buku Iman Katolik. Pernyataan ini menandaskan bahwa pada akhirnya hidup manusia dapat dikurbankan demi nilai yang lebih tinggi dan yang lebih mendesak. Jadi, dalam kasus aborsi terapeutik diatas, jelaslah bahwa ketika  hidup ibu dan anak tidak mungkin dipertahankan secara bersama-sama, maka sekurang-kurangnya harus satu yang hidupnya dipertahankan.[14]

Namun, patut diingat bahwa keputusan untuk menggugurkan kandungan bukanlah keputusan yang diambil tanpa sebab. Ada serangkaian kompleksitas permasalahan yang patut menjadi bahan pertimbangan sebelum seseorang menjatuhkan penilaian moral baik-buruk atas kasus aborsi di atas (aborsi terapeutik). Pertimbangan-pertimbangan tersebut adalah menyangkut pemahaman terhadap keseluruhan aspek  yang terjadi dalam suatu perbuatan konkrit (yakni: objek, keadaan, dan tujuan) dan masalah-masalah yang menyertainya (mis: masalah minus malum, dimana putusan terbaik harus diambil diantara pilihan terburuk). Jika pemahaman-pemahaman semacam itu dipenuhi, maka penilaian moral kita terhadap suatu perbuatan konkrit tidak hanya akan jatuh pada pandangan-pandangan yang sempit, legalis, dan formalis semata.

Daftar Pustaka

Chang, Dr. William, OFM Cap. Pengantar Teologi Moral. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Konferensi Wali Gereja Indonesia. Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisisus, 1996.

Peschke, Karl-Heinz, SVD. Etika Kristiani I Pendasaran Teologi Moral. Maumere: Ledalero, 2003.

Peschke Karl-Heinz, SVD, Etika Kristiani III Kewajiban Moral dalam Hidup Pribadi, Maumere: Ledalero, 2003.

Sofion, Anrini. “Fallopi,” Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 5, hlm. 250-251. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1989

Yustinus, Dr. dalam makalah yang berjudul Diskusi tentang Doktrin Mengenai “Intrensence Malum” Sebelum dan Sesudah Veritatis Splendor. Makalah ini dibuat sebagai bahan ceramah ilmiah, dalam rangka pembukaan tahun kuliah STFT Widya Sasana, 22 Agustus 2006.


[1]Aborsi yang dilakukan setelah tahu dengan pasti bahwa janin yang ada dalam kandungan  mengalami kecacatan fisik ataupun mental berat yang diperkirakan tidak mungkin hidup sekalipun setelah dilahirkan.

[2] Aborsi yang dilakukan karena kehamilan disebabkan oleh perkosaan. Dalam kasus ini, jabang bayi dianggap sebagai beban yang tak terpikulkan di masa yang akan datang. Rasa malu dan bayang-bayang trauma perkosaan akan terus menghantui ibu jika jabang bayi dilahirkan.

[3] Aborsi yang dilakukan bila jabang bayi bakal menjadi beban sosial atau keonomi bagi keluarga.

[4] Aborsi yang dilakukan untuk menyelamatkan kehidupan ibu, apabila terjadi riiko tinggi kehamilan.

[5] Karl-Heinz Peschke, SVD, ETIKA KRISTIANi III Kewajiban Moral dalam Hidup Pribadi, (Maumere: Ledalero, 2003), hlm. 146.

[6] Contoh kasus ini pernah dikemukakan oleh Dr. Yustinus, dalam makalahnya yang berjudul Diskusi tentang Doktrin Mengenai “Intrensence Malum” Sebelum dan Sesudah Veritatis Splendor. Makalah ini dibuat sebagai bahan ceramah ilmiah, dalam rangka pembukaan tahun kuliah STFT Widya Sasana, 22 Agustus 2006.

[7] Fallopi  (saluran telur) merupakan sepasang saluran yang terdapat di sebelah kiri dan kanan rahim (uterus). Fungsi saluran ini adalah untuk mengalirkan sel telur, yang setiap bulan dikeluarkan oleh indung telur, ke dalam rahim. Pembuahan oleh sel telur pria, biasanya terjadi di tempat ini. Setelah berada di dalam saluran ini selama 3 hari, embrio yang masih kecil dialirkan ke dalam uterus. Embrio ini kemudian tertanam di dinding uterus dan menjadi janin. Jika, terjadi keadaan yang disebut kehamilan ektopik pada fallopi, maka hal yang dikhawatirkan adalah terjadinya perdarahan ke dalam rongga perut dan pecahnya tuba fallopi. Keadaan semacam ini dapat menyebabkan kematian ibu. (Bdk, Anrini Sofion, “Fallopi,” Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 5, Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1989, hlm. 250-251.)

[8] Karl-Heinz Peschke, SVD, ETIKA KRISTIANi I Pendasaran Teologi Moral, (Maumere: Ledalero, 2003), hlm. 285.

[9] Bdk, Dr. William Chang, OFM Cap, Pengantar Teologi Moral, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 53.

[10] Karl-Heinz Peschke, SVD, Op. Cit, hlm. 290-291.

[11] Ibid, hlm. 291.

[12] Ibid,, hlm. 292.

[13] Bdk, Dr. William Chang, OFM Cap, Op. Cit, hlm. 67. Atau juga dalam, Karl-Heinz Peschke, SVD, Op. Cit, hlm. 304-305.

[14] Bdk, Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, (Yogyakarta: Kanisisus, 1996), hlm. 72.

One thought on “ABORSI TERAPEUTIK (TINJAUAN MORAL MENURUT PRINSIP-PRINSIP KESUSILAAN PERBUATAN DAN PRINSIP AKIBAT GANDA)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s